Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Diam Buta

Cerpen ini mencoba untuk mengilustrasikan salah satu perangai yang dimiliki para remaja. Sebuah perlawanan terhadap mereka yang dewasa. Namun, karena terikat pada konstruksi realitas yang mengatur hubungan dengan yang lebih tua, membuat mereka liar dalam pikiran, bungkam terhadap perlawanan. ..... Ilustrasi: Pixabay "Coba kita letak baik mana kira-kira perangai mana yang paling apik dari dirimu, Dik!" Agak kesal, belum apa-apa wajahku sudah didamprat oleh Si Kumis itu. Lalu apa? Dak, Dik, Dak, Dik, mana boleh dia punya pikir kami ini berasal dari darah yang sama. "Kenapa sekarang kau diam?" sembari memainkan kumis 3 centinya Ia terus berceloteh kepadaku. "Apa sih, Bang? Awak tengah tata karung ini seapik mungkin," jawabku agak ketus. Kesal karena dia hanya mengomentari watakku, dan tak berkaca apa bagus wataknya itu. "Kau ini, sudah abang bilang kerjakan dari yang ringan. Bandel kau malah pegang-pegang yang besar itu." Aku makin me...

Represif Budak Industri

Ilustrasi Pixabay Sebuah puisi yang dibuat untuk mengilustrasikan kisah buruh. Selamat Hari Buruh! Di balik mesin, keringat kami terperas hingga asin Tak ada menunggu, kami diperbudak tanpa dirayu Di balik gedung pencakar langit, kami menggiling hingga tersengit-sengit Di bawah kemewahan milik penguasa, kami terjebak hanya percaya dengan asa Layak dan tentram tak mudah didapat pada kehidupan Tendon yang lelah, tak pernah jadi perhatian Sekali lagi, kami dihakimi bukan pada pengadilan Melainkan dibakar hangus pada perapian berkedok pekerjaan Kata mereka, hidup kami adalah perjuangan Janji mereka, kami dibiarkan hidup dengan keadilan Hingga tiap tahunnya, kisah kami terus dirayakan Tapi, di saat yang sama, Ada bagian dari kami yang hidup penuh peluh kesengsaraan Industri melejit tak ada jaminan kami akan dipingit, Istilah modernisasi juga tak jadi jaminan Si Pemakai Dasi bisa meraba dengan intuisi Nyatanya, menjadi kami ini cukup sulit Hidup pada lingkungan kapit...