Cerpen ini mencoba untuk mengilustrasikan salah satu perangai yang dimiliki para remaja. Sebuah perlawanan terhadap mereka yang dewasa. Namun, karena terikat pada konstruksi realitas yang mengatur hubungan dengan yang lebih tua, membuat mereka liar dalam pikiran, bungkam terhadap perlawanan. ..... Ilustrasi: Pixabay "Coba kita letak baik mana kira-kira perangai mana yang paling apik dari dirimu, Dik!" Agak kesal, belum apa-apa wajahku sudah didamprat oleh Si Kumis itu. Lalu apa? Dak, Dik, Dak, Dik, mana boleh dia punya pikir kami ini berasal dari darah yang sama. "Kenapa sekarang kau diam?" sembari memainkan kumis 3 centinya Ia terus berceloteh kepadaku. "Apa sih, Bang? Awak tengah tata karung ini seapik mungkin," jawabku agak ketus. Kesal karena dia hanya mengomentari watakku, dan tak berkaca apa bagus wataknya itu. "Kau ini, sudah abang bilang kerjakan dari yang ringan. Bandel kau malah pegang-pegang yang besar itu." Aku makin me...
Hasil akhir tugas dan kesukaan!