Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Berita Kisah

Modernisasi Teh jadi Daya Tarik Pasar Sempit

Teh hijau mawar di dalam poci (Foto: penulis) Dalam legenda Kaisar Shen Nung, teh ditemukan di Cina sekitar 5000 tahun yang lalu. Asal mula teh juga dikisahkan dalam legenda India melalui cerita biarawan Bodhidharma. Kini, teh tak hanya jadi bagian dari sejarah dan budaya. Teh telah menjelma menjadi komoditas dengan hasil akhir minuman penuh kreatifitas.          Tak ada hari tanpa minum teh. Begitu demikian yang diakui Nur Winarni, wanita paruh baya berusia 54 tahun asal Jogja. Kegiatan memasak air panas dan teh tubruk Jawa berjenama Djatoet mengawali aktivitasnya di pagi hari. Jika tersedia, ia akan menikmatinya dengan beberapa potong biskuit. Jika tidak, satu gelas teh jawa bercampur satu sendok makan gula pasir tersebut tetap dinikmatinya dengan khusyuk.          “Setiap hari pasti minum teh manis panas. Kalau gak minum rasanya pusing, seperti gak punya energi,” ujarnya. Kebiasaan minum teh sudah dilak...

Kala Hobi Bertani tak Hanya jadi Pengisi Hari

Didik melakukan aktivitas menanam (Foto: Rieka Yusuf) Tanaman anggur milik Didik di kerangka besi yang menyerupai gapura di halaman rumah (Foto: Rieka Yusuf) Hal yang berawal dari kegemaran tak selalu berbicara tentang kepuasan pribadi. Perihal menjadi hobi, nyatanya bertani jadi kegiatan sambilan yang juga memunculkan kebermanfaatan sosial. Baik dengan berbagi maupun saling memengaruhi, bertani di rumah bisa jadi sarana memperoleh eksistensi. Rumah tanpa pagar di lingkungan perumahan itu terlihat menonjol dengan warna hijau. Di sisi kiri, pohon buah-buahan seperti mangga, rambutan, dan kelengkeng yang masih 1,5 meter tingginya berjejer sederet dengan aglonema. Di sisi kanan, tanaman ubi jalar tumbuh memenuhi lahan tanpa menutupi jendela kamar yang rendah.   Bagian utamanya adalah sisi depan. Tanaman anggur yang merambat dibuat menyerupai gapura seolah menunjukkan gerbang utama untuk masuk ke ruangan. Masih di bagian luar, menyisakan jalan selebar 0,75 meter dengan panjang 2,5 me...

Tiga Srikandi Mukti Lestari

  Aminah tengah memilah sampah warga Desa Poncosari (Foto: Rieka Yusuf)  Hampir setiap hari, Aminah bergelut dengan banyak ember berisi sampah untuk dipilah. Sampah organik dan anorganik kini jadi kawan barunya sejak satu bulan yang lalu, saat seseorang menawarkan pekerjaan di BUMDes Mukti Lestari. Di usianya yang kini mencapai 59 tahun, tak banyak pilihan yang tersedia. Tinggal di sebuah dusun kecil tanpa suami dan anak, Aminah mulai mendedikasikan dirinya sebagai s rikandi Mukti Lestari bersama Riefkiana Saputri dan Niken Andriyani. Pukul 8.45 pagi, Aminah bergegas mengunjungi Tempat Pemilahan Sampah Badan Usaha Milik Desa Mukti Lestari di Kecamatan Srandakan, Kab upaten Bantul. Meski letak tempat tersebut hanya 300 meter dari rumahnya, Ia memilih bersepeda. Jalanan sepanjang 100 meter di tengah-tengah sawah kerap kali menyulitkan tatkala tanah melunak akibat air hujan. Jika sudah demikian, Aminah harus lebih waspada memilih...

Tunjang Kesejahteraan melalui Sinergitas BUMDes dan Petani

Beberapa pekerja di BUMDes Mukti Lestari tengah memilah sampah (Foto: Rieka Yusuf) Menjadi petani berarti siap hidup dalam ketidakpastian. Masa panen yang hanya empat kali dalam setahun pun belum tentu menjanjikan. Alam jadi penentu, baik untuk petani pemilik lahan maupun buruh sama-sama berharap kesejahteraan. Berbagai persoalan agraria memotivasi pihak tertentu untuk berkontribusi pada kesejahteraan petani. Seperti Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mukti Lestari yang turut menginisiasi solusi dari berbagai persoalan melalui program Konservatif Poncosari (Konco) Pilah dan Konco Perdagangan. Sarinten tengah berisitirahat di bawah terpal pada saat memanen padi (Foto: Rieka Yusuf)  Ia adalah Sarinten, wanita berumur 55 tahun asal Poncosari, Bantul, yang tengah beristirahat sembari meminum teh manis di bawah traktor sawah dengan terpal sebagai penutupnya. Minggu ini adalah waktu panen padi di sawah tempatnya bekerja sebagai buruh. Di musim panen, ia harus menyerit padi dengan mesin un...

I Made Andi Arsana, Dosen Khas Milenial dengan Berbagai Keahlian

I Made Andi Arsana saat diwawancarai penulis di Coklat Caffe, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta (Foto: Rieka Yusuf) Mulanya, tidak pernah ada bayangan seorang mahasiswa semester 5 bisa mengajar teori di kelas seperti dosen pada umumnya. Maklum saja, saat I Made Andi Arsana dipercaya menjadi asdos (asisten dosen) oleh dosennya di Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada, biasanya hanya sebatas membantu kegiatan praktikum.  Pengalaman pertama mengajar teori tersebut menjadi titik balik bagi pria yang akrab disapa Andi bercita-cita sebagai dosen. Berkat tekad dan kerja keras, perantauan asal Tabanan tersebut berhasil melanjutkan studi S2 dan S3 di Australia, sekaligus menjadi Dosen Favorit dalam Gadjah Mada Award 2016 di UGM Yogyakarta. Akademisi yang aktif blogging juga pengguna sosial media ini kerap muncul jauh dari stigma seorang dosen yang serius dan monoton. Karakternya yang humble serta pandangannya terhadap berbagai persoalan berhasil memecah stigma negatif jarak a...