Langsung ke konten utama

Postingan

Jurnalisme Sol Sepatu dan Pandemi

Dokumentasi pribadi penulis saat melakukan liputan di aksi Gejayan Memanggil pertama pada 23 September 2019 di Yogyakarta . Saat berada di awal semester kelas konsentrasi jurnalistik, dosen pengampu  bertanya pada 25 mahasiswa di kelasnya, termasuk saya. "Mengapa kalian memilih konsentrasi ini?" begitu sekiranya pertanyaan yang turut membuka sesi diskusi di kelas.  Satu per satu mahasiswa membalas dengan jawaban yang juga beragam. Seperkian detik mendengar pertanyaan, saya tahu jelas apa yang harus dikatakan. Ini momen langka, sebab bisa dihitung jari bertemu kesempatan untuk menyampaikan alasan dari pilihan besar yang saya ambil.  "Saya suka dengan aktivitas liputan," jawab saya tanpa keraguan. Jawaban ini murni dari hati. Seakan, sedang mengeluarkan sebuah perapian lengkap dengan kobaran api yang menjadi penyebab dada berasap.  Turun ke lapangan, menghadapi ketidakpastian, menunggu pertemuan dengan narasumber bahkan doorstop , mengajukan pertanyaan tanpa dihakimi ...

Dongeng di Negeri Funginesia

Ilustrasi jamur (Sumber: Krzystof Niewolny via unsplash.com) Di sebuah negeri di dunia ketiga bernama Funginesia. Pagi hari jadi hari sibuk bagi rakyat fungi (sapaan akrab kingdom lain untuk menyebut masyarakat Funginesia) dari empat distrik yaitu Zygomycota, Ascomycota, Basidmycota, dan Deuteromycota. Masing-masing rakyat di empat distrik terlihat sibuk menyiapkan hari. Menata banyak persiapan untuk bereproduksi bagi fungi dewasa, hingga mengikuti pelatihan menginang bagi fungi remaja. Ada satu program wajib Funginesia yang diterapkan untuk rakyatnya, fungi-fungi muda dididik para tetua untuk merantau di dunia pertama agar sukses menginang. Mereka yang berhasil mencapai prestasi menjadi parasit, baik obligat dan fakultatif, akan ditempatkan di jabatan pemerintahan. Mereka yang kembali sebagai saprofit akan dianggap sebagai masyarakat jelata yang umumnya bertahan hidup dengan bantuan sosial negara. “Hahhh, meresahkan sekali,” keluh Ceos, fungi muda dari Klan Mycosporium. Saat i...

Modernisasi Teh jadi Daya Tarik Pasar Sempit

Teh hijau mawar di dalam poci (Foto: penulis) Dalam legenda Kaisar Shen Nung, teh ditemukan di Cina sekitar 5000 tahun yang lalu. Asal mula teh juga dikisahkan dalam legenda India melalui cerita biarawan Bodhidharma. Kini, teh tak hanya jadi bagian dari sejarah dan budaya. Teh telah menjelma menjadi komoditas dengan hasil akhir minuman penuh kreatifitas.          Tak ada hari tanpa minum teh. Begitu demikian yang diakui Nur Winarni, wanita paruh baya berusia 54 tahun asal Jogja. Kegiatan memasak air panas dan teh tubruk Jawa berjenama Djatoet mengawali aktivitasnya di pagi hari. Jika tersedia, ia akan menikmatinya dengan beberapa potong biskuit. Jika tidak, satu gelas teh jawa bercampur satu sendok makan gula pasir tersebut tetap dinikmatinya dengan khusyuk.          “Setiap hari pasti minum teh manis panas. Kalau gak minum rasanya pusing, seperti gak punya energi,” ujarnya. Kebiasaan minum teh sudah dilak...

Kala Hobi Bertani tak Hanya jadi Pengisi Hari

Didik melakukan aktivitas menanam (Foto: Rieka Yusuf) Tanaman anggur milik Didik di kerangka besi yang menyerupai gapura di halaman rumah (Foto: Rieka Yusuf) Hal yang berawal dari kegemaran tak selalu berbicara tentang kepuasan pribadi. Perihal menjadi hobi, nyatanya bertani jadi kegiatan sambilan yang juga memunculkan kebermanfaatan sosial. Baik dengan berbagi maupun saling memengaruhi, bertani di rumah bisa jadi sarana memperoleh eksistensi. Rumah tanpa pagar di lingkungan perumahan itu terlihat menonjol dengan warna hijau. Di sisi kiri, pohon buah-buahan seperti mangga, rambutan, dan kelengkeng yang masih 1,5 meter tingginya berjejer sederet dengan aglonema. Di sisi kanan, tanaman ubi jalar tumbuh memenuhi lahan tanpa menutupi jendela kamar yang rendah.   Bagian utamanya adalah sisi depan. Tanaman anggur yang merambat dibuat menyerupai gapura seolah menunjukkan gerbang utama untuk masuk ke ruangan. Masih di bagian luar, menyisakan jalan selebar 0,75 meter dengan panjang 2,5 me...

Profil Rey Diawan

  Sumber: dokumentasi pribadi Rey Diawan Nama lengkap: Fitrian Rahmad Diawan Kelahiran: Way Kanan, 7 Januari 2000 (21 Tahun) Tinggi: 170 cm Genre:  Pop Instrumen:  Gitar, piano, drum, bass   Fitrian Rahmad Diawan atau lebih dikenal dengan nama panggung Rey Diawan adalah seorang penyanyi dan penulis lagu asal Lampung (Indonesia) beraliran pop. Saat ini, ia juga aktif sebagai kreator digital dan turut terlibat menyutradarai beberapa project video serta modelling. Ketertarikannya terhadap berbagai seni sudah dimilikinya sejak kecil. Tak hanya musik, ia juga pernah terlibat dalam aktivitas seni peran (teater) dan tari tradisional saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dari berbagai aktivitas seni yang pernah dilakoni, perjalanannya merantau ke Yogyakarta untuk berkuliah menjadi awal mula perhatiannya meniti karier bermusik. Bergabung dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa, membuatnya mendapatkan banyak hal tentang musik yang sebelumnya tidak didapatkannya saat seko...

de Ngokow, Permata Tersembunyi di Yogyakarta

  Suasana de Ngokow yang terletak di Pendopo nDalem Pujokusuman Pendopo nDalem Pujokusuman merupakan tempat bersejarah milik Sultan Hamengkubuwono VIII. Sebuah cagar budaya yang pernah menjadi markas gerilya bangsa Indonesia kini disulap menjadi tempat nyaman untuk bercerita. Ini adalah hal unik sebab modern dan tradisional menjadi konsep yang bersatu padu. Sebuah kesatuan seimbang yang jarang ditemui pada banyak kafe. de Ngokow Coffee Roastery and Tea Club adalah pelakunya. Yogyakarta dipilih menjadi cerita ke-8 dari usaha yang lahir sejak tahun 2012. Kini, de Ngokow telah memiliki 6 cabang di 4 kota besar Indonesia dan masing-masing 1 cabang di Belanda juga Belgia. Selayaknya bisnis food and beverage lainnya, sajian seperti kopi, teh, makanan berat, hingga makanan ringan pun tersedia. Seperti V60 Levitation yang menjadi salah satu menu andalan. Kopi hitam yang teknik pembuatannya dikembangkan lagi oleh barista de Ngokow ini bahkan telah menjuarai Festival Kopi Indonesia Champ...