Langsung ke konten utama

Postingan

Investasi Kebahagiaan dari Memanggil Kenangan

Di suatu pagi, sebelum malam yang benar-benar usai, seringkali aku terjaga. Menatap langit-langit kamar yang was-was kucurigai akan runtuh karena terlalu berat menampung banyak pikiran. Akan ada satu proses membuka keping-kepingan memori. Menenggelamkan pada kekurang-kurangan yang kebanyakan kusesali sembari berkata, “Kenapa tidak demikian?” kataku sambil memaki diri. Aku lelah, Tuhan. Menenggelamkan diri pada fokus niskala abstrak yang selalu memaksa menangis karena kelelahan sebab terlalu banyak berpikir. Lebih banyak waktu senang yang dilupa. Lebih sedikit memori bagus yang diingat. Nyatanya aku selalu terjebak dengan pemahaman bahwa aku selalu yang paling salah. Akan mudah bagiku memuji dan menerawang kebahagiaan orang lain. Namun, tidak berlaku untuk penghakiman yang seolah jadi hukuman dari diriku untuk diriku. Semalam aku punya kesempatan untuk berbicara. Tawaran minum kopi dari teman membawaku pada percakapan penting dalam kehidupan. Tentang harapan yang seringkali jadi kam...

Rekomendasi Tempat untuk Lalala Fest saat Pandemi Berakhir

Salah satu panggung pentas Lalala Fest 2019 di Orchid Forest Cikole (Sumber: Instagram @lalala.fest) Mari mengenang peristiwa 23 Februari 2019 saat festival musik kealam-alaman ‘Lalala Fest’ diselenggarakan untuk ketiga kalinya di daerah Cikole, Lembang, Bandung. Meski tema Orchid Forest menjadi ide menarik untuk menyatukan musik dengan alam -biar syahdu di tengah hutan- nyatanya Lalala Fest 2019 masih meninggalkan banyak kenangan bersama mantan cuitan dari netijen maha oke. Terutama bagi mereka yang ditinggalin udah ngabisin duid buat beli tiket. Gimana   enggak ? Buat nontonin lebih dari 22 artis musik luar dan dalam negeri dengan tiket seharga 6 kardus indomie, para klien gagal beli indomie 6 kardus ini masih harus melewati medan perang dengan berjalan sekitar 3 km ke venue. Di antara banyaknya pohon-pohon. Jalanan menanjak dan menurun. Ribuan orang sudah melakukan hiking sekaligus jurit malam. Jika di Cikole ada lembah, sungai, sampai samudera, mungkin mereka sudah naik pa...

Jurnalisme Sol Sepatu dan Pandemi

Dokumentasi pribadi penulis saat melakukan liputan di aksi Gejayan Memanggil pertama pada 23 September 2019 di Yogyakarta . Saat berada di awal semester kelas konsentrasi jurnalistik, dosen pengampu  bertanya pada 25 mahasiswa di kelasnya, termasuk saya. "Mengapa kalian memilih konsentrasi ini?" begitu sekiranya pertanyaan yang turut membuka sesi diskusi di kelas.  Satu per satu mahasiswa membalas dengan jawaban yang juga beragam. Seperkian detik mendengar pertanyaan, saya tahu jelas apa yang harus dikatakan. Ini momen langka, sebab bisa dihitung jari bertemu kesempatan untuk menyampaikan alasan dari pilihan besar yang saya ambil.  "Saya suka dengan aktivitas liputan," jawab saya tanpa keraguan. Jawaban ini murni dari hati. Seakan, sedang mengeluarkan sebuah perapian lengkap dengan kobaran api yang menjadi penyebab dada berasap.  Turun ke lapangan, menghadapi ketidakpastian, menunggu pertemuan dengan narasumber bahkan doorstop , mengajukan pertanyaan tanpa dihakimi ...

Dongeng di Negeri Funginesia

Ilustrasi jamur (Sumber: Krzystof Niewolny via unsplash.com) Di sebuah negeri di dunia ketiga bernama Funginesia. Pagi hari jadi hari sibuk bagi rakyat fungi (sapaan akrab kingdom lain untuk menyebut masyarakat Funginesia) dari empat distrik yaitu Zygomycota, Ascomycota, Basidmycota, dan Deuteromycota. Masing-masing rakyat di empat distrik terlihat sibuk menyiapkan hari. Menata banyak persiapan untuk bereproduksi bagi fungi dewasa, hingga mengikuti pelatihan menginang bagi fungi remaja. Ada satu program wajib Funginesia yang diterapkan untuk rakyatnya, fungi-fungi muda dididik para tetua untuk merantau di dunia pertama agar sukses menginang. Mereka yang berhasil mencapai prestasi menjadi parasit, baik obligat dan fakultatif, akan ditempatkan di jabatan pemerintahan. Mereka yang kembali sebagai saprofit akan dianggap sebagai masyarakat jelata yang umumnya bertahan hidup dengan bantuan sosial negara. “Hahhh, meresahkan sekali,” keluh Ceos, fungi muda dari Klan Mycosporium. Saat i...

Modernisasi Teh jadi Daya Tarik Pasar Sempit

Teh hijau mawar di dalam poci (Foto: penulis) Dalam legenda Kaisar Shen Nung, teh ditemukan di Cina sekitar 5000 tahun yang lalu. Asal mula teh juga dikisahkan dalam legenda India melalui cerita biarawan Bodhidharma. Kini, teh tak hanya jadi bagian dari sejarah dan budaya. Teh telah menjelma menjadi komoditas dengan hasil akhir minuman penuh kreatifitas.          Tak ada hari tanpa minum teh. Begitu demikian yang diakui Nur Winarni, wanita paruh baya berusia 54 tahun asal Jogja. Kegiatan memasak air panas dan teh tubruk Jawa berjenama Djatoet mengawali aktivitasnya di pagi hari. Jika tersedia, ia akan menikmatinya dengan beberapa potong biskuit. Jika tidak, satu gelas teh jawa bercampur satu sendok makan gula pasir tersebut tetap dinikmatinya dengan khusyuk.          “Setiap hari pasti minum teh manis panas. Kalau gak minum rasanya pusing, seperti gak punya energi,” ujarnya. Kebiasaan minum teh sudah dilak...

Kala Hobi Bertani tak Hanya jadi Pengisi Hari

Didik melakukan aktivitas menanam (Foto: Rieka Yusuf) Tanaman anggur milik Didik di kerangka besi yang menyerupai gapura di halaman rumah (Foto: Rieka Yusuf) Hal yang berawal dari kegemaran tak selalu berbicara tentang kepuasan pribadi. Perihal menjadi hobi, nyatanya bertani jadi kegiatan sambilan yang juga memunculkan kebermanfaatan sosial. Baik dengan berbagi maupun saling memengaruhi, bertani di rumah bisa jadi sarana memperoleh eksistensi. Rumah tanpa pagar di lingkungan perumahan itu terlihat menonjol dengan warna hijau. Di sisi kiri, pohon buah-buahan seperti mangga, rambutan, dan kelengkeng yang masih 1,5 meter tingginya berjejer sederet dengan aglonema. Di sisi kanan, tanaman ubi jalar tumbuh memenuhi lahan tanpa menutupi jendela kamar yang rendah.   Bagian utamanya adalah sisi depan. Tanaman anggur yang merambat dibuat menyerupai gapura seolah menunjukkan gerbang utama untuk masuk ke ruangan. Masih di bagian luar, menyisakan jalan selebar 0,75 meter dengan panjang 2,5 me...